MUTUBA NEWS - Pengajian Ahad Pagi yang digelar di Masjid At-Taqwa 1 Demangan menjadi ruang refleksi mendalam tentang hakikat ibadah puasa. Dalam kajiannya, Dr. H.Thoat Stiawan, S.H.I., M.H.I. menekankan bahwa puasa tidak cukup hanya menahan lapar dan dahaga, namun harus diiringi dengan penjagaan hati dan perilaku.
Disampaikan bahwa pada zaman Rasulullah, telah diingatkan adanya orang-orang yang berpuasa tetapi tidak memperoleh apa pun dari puasanya selain rasa lapar dan haus. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah.
كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ وَالْعَطَشُ
“Betapa banyak orang yang berpuasa, namun ia tidak mendapatkan dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga.”
(HR. Ahmad dan Ibnu Mājah)
Agar puasa tidak kehilangan maknanya, disampaikan dua hal utama yang harus dijaga oleh setiap muslim:
• Hifẓul Qalb (menjaga hati)
Membersihkan hati dari niat buruk, iri, dengki, dan prasangka yang dapat merusak nilai ibadah.
• Hifẓul Fi‘l (menjaga perilaku dan perbuatan)
Mengendalikan sikap, ucapan, dan tindakan agar tetap berada dalam akhlak yang diridai Allah.
Pesan ini kemudian diperkuat dengan hadis yang diriwayatkan dalam Riyāḍuṣ Ṣāliḥīn, tentang pentingnya menjaga lisan sebagai cerminan keimanan:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.”
(HR. Bukhari dan Muslim, dalam Riyāḍuṣ Ṣāliḥīn)
Hadis ini menjadi pengingat bahwa menjaga lisan dari ucapan yang menyakiti orang lain merupakan bagian penting dari kesempurnaan iman, terlebih di bulan puasa.
Melalui kajian ini, jamaah diajak untuk menjadikan puasa sebagai sarana penyucian diri secara menyeluruh—bukan hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga menata hati, lisan, dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
penulis : yuni kartika sari
