Bangkalan Ngangghit, MUTUBA Tampilkan Kekayaan Budaya dan Semangat Berkarya dalam Karnaval Bangkalan 2026

MUTUBA NEWS - SD Muhammadiyah 1 Bangkalan (MUTUBA) turut ambil bagian dalam Karnaval Kabupaten Bangkalan 2026 yang digelar Senin (10/8/2026) siang. Mengusung tema “Bangkalan Ngangghit: Dari Warisan Budaya, Lahir Karya untuk Mengukir Peradaban”, MUTUBA menghadirkan parade budaya yang memadukan kekayaan tradisi Bangkalan, semangat kebangsaan, kreativitas, serta potensi daerah.

Keikutsertaan MUTUBA dalam karnaval ini menjadi momentum untuk memperkenalkan kekayaan budaya Bangkalan kepada masyarakat sekaligus menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Melalui kegiatan ini, guru dan siswa diajak untuk mengenal, mencintai, serta ikut melestarikan warisan budaya daerah.

Rangkaian penampilan diawali dengan hadirnya Topeng Patenteng, kesenian tradisional khas Kecamatan Modung. Sosok tersebut menjadi simbol kekayaan seni tradisional Bangkalan yang perlu terus dijaga dan diwariskan kepada generasi muda.

Semangat kebangsaan kemudian diperkuat dengan hadirnya pasukan Paskibraka yang membawa banner “Bangkalan Ngangghit”, Garuda Pancasila, foto Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia, serta Bendera Merah Putih.

Perpaduan Tari dan Budaya Lokal

Semarak karnaval semakin terasa melalui penampilan enam penari dari Kelas Talenta SD Muhammadiyah 1 Bangkalan. Mereka membawakan perpaduan Tari Muang Sangkal, Tari Pecut, dan Tari Topeng Patenteng.

Tari Muang Sangkal menjadi simbol doa dan harapan agar Bangkalan senantiasa dijauhkan dari marabahaya serta diberikan kehidupan yang aman, tenteram, dan sejahtera. Sementara Tari Pecut merepresentasikan keberanian dan semangat masyarakat Madura. Adapun Tari Topeng Patenteng menjadi simbol keberlanjutan seni tradisional Bangkalan di tengah perkembangan zaman.

Setelah penampilan tari, perhatian masyarakat diarahkan pada kendaraan hias MUTUBA yang membawa replika Batik Gentongan raksasa. Di atas kendaraan tersebut juga terdapat replika perajin yang sedang membatik serta sertifikat sebagai simbol pengakuan terhadap Batik Gentongan khas Tanjung Bumi.

Batik Gentongan dipilih sebagai ikon utama karena merupakan salah satu kekayaan budaya yang menjadi kebanggaan Kabupaten Bangkalan. Melalui replika tersebut, MUTUBA ingin menunjukkan bahwa karya besar lahir dari ketekunan, kreativitas, dan kecintaan terhadap tradisi.

Guru MUTUBA Berkarya melalui Kostum Karnaval

Keunikan lain dalam penampilan MUTUBA terlihat dari parade kostum yang seluruhnya dirancang dan dibuat secara mandiri oleh guru-guru SD Muhammadiyah 1 Bangkalan.

Kostum Batik Gentongan, Tongkos, dan Topeng Patenteng menjadi bagian dari parade yang memperkenalkan identitas budaya lokal. Kreativitas para guru tersebut menjadi bukti bahwa pendidik tidak hanya berperan dalam proses pembelajaran, tetapi juga mampu menghasilkan karya kreatif yang memiliki nilai edukasi dan budaya.

Selain budaya lokal, MUTUBA juga menghadirkan kostum Tombak dan Bambu Runcing sebagai simbol patriotisme, keberanian, pengorbanan, dan semangat perjuangan para pahlawan.

Warna merah putih yang mendominasi kostum menjadi pengingat bahwa generasi saat ini memiliki tugas untuk mengisi kemerdekaan melalui karya, prestasi, dan pengabdian.

Mengenalkan Ikon dan Potensi Bangkalan

Parade MUTUBA kemudian menghadirkan berbagai ikon dan potensi Kabupaten Bangkalan. Di antaranya Masjid Syaichona Cholil, Jembatan Suramadu, Sakera, Marlena, Kerapan Sapi, Nelayan, Petani Padi, Petani Jagung, hingga Durian Sobih.

Setiap kostum membawa pesan tersendiri. Masjid Syaichona Cholil merepresentasikan kekuatan nilai religius masyarakat Bangkalan. Jembatan Suramadu menjadi simbol konektivitas dan kemajuan. Sakera dan Marlena menggambarkan semangat perjuangan serta ketangguhan masyarakat Madura.

Sementara itu, Kerapan Sapi menjadi representasi tradisi dan semangat sportivitas masyarakat Madura. Kostum Nelayan, Petani Padi, dan Petani Jagung menggambarkan kerja keras masyarakat dalam mengelola potensi alam Bangkalan.

Adapun Durian Sobih menjadi representasi kekayaan hasil pertanian dan produk unggulan daerah.

Puncak parade ditandai dengan hadirnya busana Pengantin Adat Madura Lilin yang berpadu dengan busana pengantin adat Nusantara. Penampilan tersebut menjadi simbol keberagaman budaya yang bersatu dalam bingkai Indonesia.

Bangkalan Ngangghit, Dari Budaya Menjadi Karya

Melalui seluruh rangkaian penampilan tersebut, MUTUBA ingin menyampaikan pesan bahwa Bangkalan adalah daerah yang kaya akan budaya, sejarah, potensi alam, dan sumber daya manusia.

Kepala SD Muhammadiyah 1 Bangkalan Isrotul Sukma, bersama seluruh guru dan warga sekolah memberikan dukungan terhadap keterlibatan MUTUBA dalam karnaval tersebut. Kreativitas yang ditampilkan menjadi hasil kolaborasi dan kerja bersama untuk menghadirkan karya terbaik bagi masyarakat.

Tema “Bangkalan Ngangghit” pun bukan sekadar slogan. Ia menjadi gambaran bahwa warisan budaya dapat menjadi sumber inspirasi untuk melahirkan karya baru.

Melalui karnaval ini, MUTUBA tidak sekadar ingin tampil meriah, tetapi juga membawa misi pendidikan: mengenalkan budaya kepada generasi muda, menumbuhkan rasa bangga terhadap daerah, serta mengajarkan bahwa menjaga warisan budaya dapat dilakukan melalui karya dan kreativitas.

“Bangkalan Ngangghit… Bangkalan Berkarya. Melestarikan Budaya, Menginspirasi Indonesia.”

Karnaval Kabupaten Bangkalan 2026 sendiri berlangsung pada 10–11 Agustus 2026, dengan rute yang melintasi sejumlah jalan utama Bangkalan dan titik penting seperti Alun-Alun Bangkalan, Masjid Agung Bangkalan, Kantor Pos Bangkalan, dan Pendopo Agung Bangkalan.


kontributor : tim humas mutuba (sofi koesminarsih)

Lebih baru Lebih lama