Bukan Sekadar Menggambar, Siswa Kelas 4 MUTUBA Diajak Menemukan Ragam Hias Indonesia


MUTUBA NEWS - Pembelajaran Seni Rupa di kelas 4 SD Muhammadiyah 1 Bangkalan berlangsung dengan suasana penuh rasa ingin tahu, Rabu (28/10/2026). Melalui materi Mengidentifikasi Jenis-Jenis Ragam Hias Indonesia, siswa diajak tidak sekadar mengenal bentuk, tetapi juga menemukan sendiri ciri berbagai ragam hias yang berkembang di Indonesia.

Pembelajaran yang disusun oleh Zia Fadilah Izha, S.Pd. ini menggunakan model Discovery Learning. Model tersebut memberikan ruang kepada siswa untuk mengamati, bertanya, mengumpulkan informasi, mengolah data, hingga menarik kesimpulan berdasarkan hasil penemuan mereka.

Kegiatan pembelajaran hari itu sekaligus menjadi bagian dari supervisi pembelajaran. Proses pembelajaran diamati secara langsung oleh Bu Reza selaku KP (Koordinator Pembelajaran) dan Pak Hilmi selaku Waka Ketenagakerjaan SD Muhammadiyah 1 Bangkalan.

Belajar dari Gambar, Menemukan Sendiri

Sejak awal pembelajaran, siswa diajak mengamati berbagai gambar motif ragam hias Indonesia. Ada motif yang menyerupai bunga dan daun, bentuk hewan, pola geometris, hingga bentuk manusia.

Guru tidak langsung memberikan jawaban. Sebaliknya, siswa diajak berpikir melalui pertanyaan pemantik.

“Apa saja bentuk hiasan yang kalian temukan pada gambar tersebut?”

Pertanyaan sederhana itu menjadi pintu masuk bagi siswa untuk mulai mengamati dan mengemukakan pendapat.

Dari kegiatan tersebut, siswa kemudian mengenal empat jenis ragam hias, yakni flora, fauna, geometris, dan figuratif.

Kartu Gambar Jadi Media Penemuan

Memasuki kegiatan inti, siswa bekerja dalam kelompok kecil. Mereka mendapatkan kartu-kartu gambar motif ragam hias dan lembar kerja peserta didik (LKPD).

Siswa kemudian mengamati setiap gambar, mencatat cirinya, lalu mengelompokkan gambar sesuai jenis ragam hias.

Ada yang menemukan motif bunga dan daun sebagai ragam hias flora. Ada pula yang mengenali gambar burung atau ikan sebagai ragam hias fauna. Sementara bentuk segitiga, lingkaran, dan persegi mengantarkan siswa pada ragam hias geometris.

Aktivitas tersebut membuat pembelajaran menjadi lebih hidup. Siswa tidak hanya mendengarkan penjelasan guru, tetapi terlibat langsung dalam proses menemukan konsep.

Setelah berdiskusi, setiap kelompok mempresentasikan hasil pengelompokan mereka. Kelompok lain diberi kesempatan untuk memberikan tanggapan sehingga terjadi proses saling belajar antarsiswa.

Supervisi sebagai Ruang Bertumbuh

Kehadiran Bu Reza dan Pak Hilmi dalam supervisi tidak hanya menjadi proses pengamatan terhadap pembelajaran. Lebih dari itu, supervisi menjadi ruang untuk melihat bagaimana perencanaan pembelajaran diterapkan dalam situasi nyata di kelas.

Model Discovery Learning yang digunakan memberikan kesempatan kepada siswa untuk membangun pemahamannya melalui pengalaman belajar. Guru berperan sebagai fasilitator yang mengarahkan siswa agar mampu menemukan jawaban melalui proses mengamati, berdiskusi, mengelompokkan, dan membuktikan.

Kegiatan supervisi ini sekaligus menjadi bagian dari ikhtiar SD Muhammadiyah 1 Bangkalan untuk terus menghadirkan pembelajaran yang aktif, bermakna, dan berpusat pada peserta didik.

Dari Ragam Hias, Belajar Menghargai Budaya

Pembelajaran ragam hias ternyata tidak berhenti pada kemampuan membedakan flora, fauna, geometris, dan figuratif.

Di balik motif-motif tersebut, siswa juga diperkenalkan pada kekayaan seni dan budaya Indonesia.

Dari sebuah gambar bunga, siswa belajar mengenali motif flora. Dari gambar burung, mereka mengenal ragam hias fauna. Dari garis dan bentuk sederhana, mereka menemukan pola geometris. Sementara bentuk manusia mengenalkan mereka pada ragam hias figuratif.

Pembelajaran pun menjadi lebih dari sekadar mengenal motif. Siswa belajar bahwa Indonesia memiliki kekayaan budaya yang dapat ditemukan dalam berbagai karya seni.

Supervisi hari itu menjadi pengingat bahwa pembelajaran yang baik bukan hanya tentang seberapa banyak materi yang disampaikan, tetapi juga tentang seberapa jauh siswa diberi kesempatan untuk mengamati, berpikir, menemukan, dan menyampaikan apa yang mereka pahami.

Bu Reza dan Pak Hilmi hadir mengamati, guru terus berbenah, dan siswa belajar menemukan. Dari ruang kelas, proses bertumbuh itu terus berlangsung.


kontributor : tim humas mutuba (sk)

Lebih baru Lebih lama