MUTUBA NEWS - Belajar IPA tidak selalu harus dimulai dari buku. Di kelas 5B SD Muhammadiyah 1 Bangkalan, cahaya justru mengajak siswa menjadi “detektif” yang mencari jawaban melalui percobaan.
Kegiatan tersebut berlangsung dalam program JKI (Jelajah Kelas Inspiratif), Kamis (15/10/2026). JKI merupakan program pengembangan budaya belajar di lingkungan SD Muhammadiyah 1 Bangkalan yang memberi ruang bagi guru untuk saling berbagi praktik baik melalui kegiatan open class.
Kali ini, Ibu Rika Wandira, wali kelas 5B, membuka pintu kelasnya untuk berbagi pengalaman pembelajaran IPA dengan topik Sifat-Sifat Cahaya melalui tema “Petualangan Inkuiri Detektif Cahaya: Membuktikan 5 Sifat Cahaya.”
Sejumlah guru Mutuba turut hadir mengikuti proses pembelajaran. Di antaranya Bu Yuli, Bu Intan, Bu Diar, Bu Nurul, Bu Qonita, Bu Amel, Bu Fatiah, Bu Sofi, dan Bu Yuni.
Dari rasa penasaran menjadi penyelidikan
Suasana kelas terlihat berbeda. Siswa tidak hanya duduk mendengarkan penjelasan guru. Mereka diajak mengamati, bertanya, membuat dugaan, melakukan percobaan, mencatat hasil, hingga menyampaikan kesimpulan.
Pembelajaran diawali dengan stimulus sederhana. Guru memainkan cahaya senter untuk memancing rasa ingin tahu siswa.
“Kalau cahaya itu bisa kita lihat, sebenarnya bagaimana cahaya bekerja?” kira-kira itulah pertanyaan besar yang kemudian membawa siswa masuk ke dalam petualangan penyelidikan.
Siswa kemudian merumuskan pertanyaan dan hipotesis bersama kelompok. Dari sini, mereka tidak langsung diberi jawaban. Sebaliknya, mereka diajak membuktikan sendiri melalui lima percobaan.
Lima sifat cahaya yang diselidiki adalah cahaya merambat lurus, dapat dipantulkan, dapat menembus benda bening, dapat dibiaskan, dan dapat diuraikan.
Lima percobaan, lima pengalaman
Pada percobaan pertama, siswa menggunakan senter dan tiga karton berlubang untuk membuktikan bahwa cahaya merambat lurus. Ketika posisi karton tengah digeser, cahaya tidak lagi sampai pada bagian akhir.
Percobaan berikutnya menggunakan cermin datar. Siswa mengamati bagaimana cahaya senter dapat dipantulkan hingga mengenai dinding.
Tidak kalah menarik ketika mereka menguji benda yang dapat ditembus cahaya. Gelas bening, mika, kertas, hingga kardus digunakan untuk membandingkan bagaimana cahaya melewati benda yang berbeda.
Siswa juga menemukan fenomena pembiasan melalui pensil yang dimasukkan ke dalam gelas berisi air. Dari sudut pandang tertentu, pensil tampak seperti berubah arah.
Puncaknya adalah percobaan penguraian cahaya. Dengan bantuan cermin dan air, siswa berusaha menangkap spektrum warna yang menyerupai pelangi.
Di sinilah pembelajaran menjadi lebih dari sekadar menghafal lima sifat cahaya. Anak-anak melihat, mencoba, menemukan, lalu menyimpulkan.
Guru pun ikut belajar
Sementara siswa sibuk melakukan penyelidikan, guru-guru yang mengikuti Open Class mengamati proses pembelajaran dari dekat.
Mereka tidak sekadar melihat apakah pembelajaran berjalan sesuai modul ajar. Lebih dari itu, JKI menjadi ruang untuk melihat bagaimana sebuah konsep dapat dihadirkan dalam pengalaman belajar yang konkret dan bermakna bagi siswa.
Model Inquiry Learning yang diterapkan Bu Rika memberi kesempatan kepada siswa untuk melalui tahapan orientasi, merumuskan masalah, membuat hipotesis, mengumpulkan data, menguji hipotesis, hingga menyampaikan kesimpulan.
Bagi guru, proses tersebut menjadi bahan belajar bersama. Ada praktik yang bisa diapresiasi, ada hal yang dapat didiskusikan, dan ada pengalaman yang bisa dibawa pulang untuk diterapkan di kelas masing-masing.
Sebab, semangat JKI bukan tentang siapa guru yang paling hebat mengajar. JKI adalah ruang untuk saling belajar agar pembelajaran di kelas semakin hidup.
Ketika kelas menjadi laboratorium kecil
Kegiatan Open Class ini sekaligus menunjukkan bahwa laboratorium IPA tidak selalu harus berupa ruang khusus dengan peralatan yang lengkap.
Sebuah senter, beberapa karton, cermin, gelas, pensil, air, dan kertas putih ternyata cukup untuk mengubah kelas menjadi laboratorium kecil yang penuh rasa ingin tahu.
Anak-anak belajar bahwa ilmu pengetahuan bukan sekadar jawaban yang tertulis di buku. Ilmu juga lahir dari pertanyaan sederhana seperti, “Mengapa pensil terlihat bengkok di dalam air?” atau “Mengapa cahaya tidak bisa menembus kardus?”
Dari pertanyaan-pertanyaan kecil itulah tumbuh keberanian untuk mencoba dan menemukan.
Bagi SD Muhammadiyah 1 Bangkalan, kegiatan JKI menjadi salah satu ikhtiar untuk menumbuhkan budaya guru belajar, berbagi, dan bertumbuh bersama.
Karena kelas yang inspiratif tidak selalu lahir dari sesuatu yang rumit. Terkadang, ia dimulai dari seorang guru yang berani membuka pintu kelasnya, membagikan praktik baik, lalu mengajak rekan-rekannya untuk belajar bersama.
Dan hari itu, cahaya bukan hanya menerangi ruang kelas 5B. Ia juga menjadi penerang bagi sebuah proses belajar bersama, antara siswa dan guru.
kontributor : tim humas mutuba (sk)
