“Bukan Sekadar Mendampingi!” GPK SD Muhammadiyah 1 Bangkalan Perkuat Kompetensi Penanganan ABK Lewat Pelatihan PPI

 

MUTUBA NEWS - Suasana Aula SD Muhammadiyah 1 Bangkalan dipenuhi semangat belajar dan antusiasme para guru dalam kegiatan “Pelatihan Kompetensi Penanganan ABK dan Pembuatan Program Pendidikan Individu (PPI) Guru Pendamping Khusus (GPK)” yang dilaksanakan pada Kamis (21/5/2026).

Kegiatan ini menjadi langkah nyata sekolah dalam memperkuat layanan pendidikan inklusif sekaligus meningkatkan kompetensi guru dalam memahami karakteristik anak berkebutuhan khusus (ABK) serta menyusun program pendampingan yang tepat sasaran.

Pelatihan ini merupakan hasil kolaborasi Mahasiswa Mengajar Berdampak Psikologi Universitas Trunojoyo Madura yang terdiri dari Inaya Alya Fatiha, Siti Fatimah, Mufidatul Imanda Arifianti, dan Onky Yulyandi Varel bersama tim sekolah yang diketuai oleh Ibu Yuli Fatmawati.

Dalam sambutannya, Kepala SD Muhammadiyah 1 Bangkalan, Ibu Isrotul Sukma, menyampaikan bahwa pendidikan inklusif membutuhkan sinergi, kesabaran, dan pemahaman yang mendalam dari seluruh pendidik.

“Setiap anak memiliki potensi yang luar biasa dan berhak mendapatkan pelayanan pendidikan terbaik sesuai kebutuhannya. Melalui pelatihan ini, kami berharap guru pendamping khusus mampu memahami karakteristik siswa secara lebih mendalam serta menyusun program pembelajaran individual yang benar-benar berdampak bagi perkembangan anak,” tuturnya.

Pelatihan menghadirkan narasumber dosen Universitas Trunojoyo Madura, Ibu Hapsari Puspita Rini, M.Si., Psikolog. Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan bahwa Program Pendidikan Individu (PPI) merupakan dokumen kolaboratif yang disusun bersama oleh guru, orang tua, dan pihak terkait dengan berpusat pada kebutuhan siswa.

“GPK bukan bertugas mendiagnosis kekhususan siswa ataupun hanya mendampingi secara fisik. Guru pendamping harus memahami karakteristik siswa dan menyiapkan program pendampingan individual,” jelasnya.

Materi yang disampaikan meliputi peran shadow teacher, konsep dasar PPI, persiapan asesmen, proses penyusunan program, hingga evaluasi pelaksanaan PPI. Peserta juga dibekali pemahaman bahwa setiap siswa memiliki kebutuhan yang berbeda sehingga memerlukan pendekatan dan strategi pendampingan yang berbeda pula.

Selain itu, narasumber menegaskan bahwa guru pendamping khusus bukanlah psikolog, terapis, ataupun babysitter, melainkan fasilitator pendidikan yang membantu siswa berkembang secara optimal melalui program yang terstruktur dan berkelanjutan.

Dalam proses penyusunan PPI, guru diarahkan untuk melakukan asesmen melalui observasi, wawancara, studi dokumen, dan tes informal. Hasil asesmen tersebut kemudian digunakan untuk menentukan tujuan pembelajaran, target perilaku, langkah pendampingan, hingga evaluasi program.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Para guru aktif bertanya dan berbagi pengalaman mengenai penanganan siswa berkebutuhan khusus yang pernah maupun sedang mereka dampingi di sekolah.

Melalui pelatihan ini, SD Muhammadiyah 1 Bangkalan berharap layanan pendidikan inklusif di sekolah dapat semakin optimal sehingga setiap siswa mendapatkan pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan dan potensi terbaiknya.



penulis : sofi koesminarsih

Lebih baru Lebih lama