Bimtek Kepenulisan Budaya Lokal: Menghidupkan Budaya Bangkalan Lewat Tulisan

                                              Bimtek Kepenulisan Budaya Lokal

MUTUBA NEWS – Budaya tidak cukup hanya dikenang dan diceritakan dari generasi ke generasi. Budaya juga perlu ditulis, didokumentasikan, dan dikenalkan dengan cara yang menarik agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman. Semangat inilah yang menjadi salah satu pesan utama dalam Bimtek Kepenulisan Budaya Lokal yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bangkalan.


Kegiatan ini menjadi ruang bagi para peserta untuk belajar sekaligus menggali lebih dalam kekayaan budaya Bangkalan. Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Bangkalan, M. Ainul Ghufron, S.Sos., M.M., menyampaikan bahwa budaya kepenulisan di Bangkalan harus terus dihidupkan. Melalui tulisan, berbagai cerita, sejarah, tradisi, dan kekayaan budaya lokal dapat terus diwariskan kepada generasi berikutnya.


Pesan senada disampaikan Wakil Bupati Bangkalan, Moch. Fauzan Ja'far, S.Ag., S.H., M.H. Ia mengajak masyarakat untuk memaknai perpustakaan secara lebih luas. Perpustakaan bukan sekadar tempat menyimpan buku atau arsip, tetapi dapat menjadi episentrum literasi, tempat masyarakat menemukan gagasan, mengembangkan wawasan, hingga melahirkan karya melalui tulisan. Menurutnya, literasi tidak berhenti pada kegiatan membaca. Masyarakat juga perlu memiliki kebiasaan untuk menulis. Sebab, melalui tulisan, seseorang dapat menerjemahkan gagasan dan membagikan pemikirannya kepada orang lain. Dari situlah lahir karya-karya yang dapat memberikan manfaat dan meninggalkan jejak bagi generasi mendatang.


Dalam kegiatan tersebut, peserta juga diajak mengenal lebih dekat budaya Bangkalan melalui pemaparan dari tiga narasumber. Hendra Gemma Dominant, S.Sn., Sekretaris Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (DISPUDPAR) Bangkalan, menjelaskan pentingnya peran pemerintah dalam menjaga dan mengembangkan kebudayaan daerah. DISBUDPAR memiliki peran sebagai fasilitator dan kurator, menggali serta melestarikan identitas daerah, sekaligus memberdayakan sumber daya manusia, termasuk para penulis yang memiliki kepedulian terhadap budaya lokal.


Sementara itu, tokoh budayawan Rr. Supik Amin membawa peserta menyelami cerita di balik kekayaan batik Bangkalan. Salah satu kisah yang menarik adalah tentang perempuan-perempuan pesisir yang mengisi waktu menunggu kepulangan suami dari melaut dengan membatik. Dari kerinduan dan penantian itulah lahir karya-karya yang bukan sekadar indah secara visual, tetapi juga menyimpan rasa, cerita, dan filosofi kehidupan.


Peserta juga dikenalkan dengan proses pembuatan Batik Gentongan, yang memiliki ciri khas pada proses pewarnaannya menggunakan gentong. Berbagai cerita tentang motif batik, termasuk motif yang menggambarkan ombak, menunjukkan bahwa alam dan kehidupan masyarakat pesisir turut menjadi bagian dari identitas budaya Bangkalan.


Narasumber berikutnya yaitu, Muhammad Rizki Taufan, S.Pd., mengajak peserta melihat kebudayaan secara lebih luas. Kebudayaan tidak hanya berbicara tentang kesenian, tetapi mencakup tujuh unsur, yaitu bahasa, sistem pengetahuan, organisasi sosial, sistem peralatan hidup dan teknologi, sistem mata pencaharian, sistem religi, serta kesenian.


Ia juga menjelaskan bahwa warisan budaya tidak hanya berupa benda, tetapi juga warisan budaya tak benda atau Intangible Cultural Heritage. Karena itu, budaya perlu dilacak, dikaji, dan ditulis agar jejak sejarahnya tetap dapat dipahami oleh generasi mendatang. Menurutnya, budaya bukan hanya milik masa lalu, tetapi merupakan warisan yang harus terus dirawat dan dilestarikan.


Salah satu hal yang menarik dalam diskusi adalah pembahasan mengenai bagaimana sejarah dan budaya Madura dapat ditelusuri melalui kajian historis dan komparasi genealogis para penguasa Madura. Berbagai cerita tentang pakaian, akulturasi budaya, hingga tradisi masyarakat juga menjadi bagian dari pembahasan yang memperkaya wawasan peserta.


Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa kekayaan budaya Bangkalan begitu luas dan memiliki banyak cerita yang layak untuk ditulis. Dari batik Gentongan, kisah perempuan pesisir, tradisi masyarakat, sejarah pakaian, hingga berbagai warisan budaya lainnya, semuanya menyimpan cerita yang bisa menjadi sumber inspirasi bagi para penulis. Sebab, ketika sebuah budaya ditulis, ia tidak hanya menjadi kenangan. Ia menjadi pengetahuan, menjadi warisan, dan memiliki kesempatan untuk terus hidup. Dari Bangkalan, mari terus menulis, mendokumentasikan, dan memperkenalkan budaya lokal agar semakin dikenal, dicintai, dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Karena budaya yang ditulis akan lebih mudah dikenang. Dan budaya yang dikenang akan lebih mungkin untuk terus dilestarikan.

 Kontributor : Humas Mutuba

Lebih baru Lebih lama