MUTUBA NEWS – SD Muhammadiyah 1 Bangkalan terus menanamkan pendidikan karakter Islami kepada peserta didik melalui program Kultum (Kuliah Tujuh Menit) yang rutin dilaksanakan setiap selesai Salat Dhuha berjamaah. Pada kesempatan kali ini, kultum disampaikan oleh Ananda Arzaqillah Zayyan Annaufal, siswa kelas 6A, dengan mengangkat tema "Menjaga Lisan di Era Media Sosial."
Materi yang disampaikan mengajak seluruh peserta didik untuk lebih berhati-hati dalam menggunakan media sosial. Di era digital saat ini, menjaga lisan tidak hanya dilakukan saat berbicara secara langsung, tetapi juga ketika menulis komentar, membagikan informasi (share), memberikan tanda suka (like), maupun mengunggah status di berbagai platform media sosial.
Dalam kultumnya, Arzaqillah mengingatkan bahwa tidak ada ruang yang benar-benar anonim di hadapan Allah SWT. Setiap ucapan, tulisan, maupun aktivitas yang dilakukan di media sosial akan dicatat dan dipertanggungjawabkan.
Ia mengutip firman Allah SWT dalam QS. Qaf ayat 18:
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
"Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat)." (QS. Qaf: 18)
Menurutnya, ayat tersebut tidak hanya berlaku ketika seseorang berbicara di hadapan banyak orang, tetapi juga ketika mengetik komentar di Instagram, TikTok, Facebook, maupun platform media sosial lainnya.
Arzaqillah juga mengingatkan bahwa fenomena yang sering terjadi di dunia maya adalah komentar negatif yang mudah menjatuhkan orang lain. Menghina penampilan, mencela kekurangan, hingga menyebarkan fitnah terhadap seseorang yang bahkan belum dikenal secara pribadi merupakan perbuatan yang harus dihindari oleh setiap muslim.
Ia menyampaikan beberapa pesan penting kepada teman-temannya, di antaranya:
- Satu kata makian yang diketik hari ini bisa menjadi dosa jariyah digital yang terus mengalir meskipun akun telah lama log out.
- Satu fitnah yang dibagikan (share) dapat merusak nama baik banyak orang, dan pelakunya tetap menanggung dosanya.
- Sebelum mengetik atau membagikan sesuatu, biasakan untuk berpikir apakah informasi tersebut benar, baik, dan bermanfaat.
Seluruh peserta didik mengikuti kultum dengan penuh perhatian. Mereka diajak untuk memahami bahwa media sosial harus dimanfaatkan sebagai sarana menyebarkan kebaikan, bukan sebagai tempat menyebarkan kebencian maupun informasi yang belum jelas kebenarannya.
