Hal itu terlihat dalam kegiatan supervisi pembelajaran yang dilaksanakan pada Jumat (16/10/2026), pukul 08.15–09.15 WIB. Pembelajaran Seni Rupa dengan materi Gradasi Warna tersebut diampu oleh Nurul Iftitah SR, S.Pd.
Kegiatan supervisi diikuti oleh Waka Ketenagakerjaan sekaligus supervisor, Pak Hilmi, dan Koordinator Paralel (KP) sekaligus supervisor, Bu Reza.
Sejak awal pembelajaran, suasana kelas 2A tampak hangat dan menyenangkan. Siswa diajak mengamati contoh gambar yang menggunakan gradasi warna, kemudian guru mengajak mereka berdiskusi sederhana tentang perubahan warna dari terang menuju gelap.
“Menurut kalian, mengapa warna pada gambar ini terlihat berubah dari terang ke gelap?” menjadi salah satu pertanyaan pemantik yang membuat siswa mulai memperhatikan detail warna pada gambar.
Dari Warna Terang Menuju Gelap
Dalam pembelajaran tersebut, Nurul mengenalkan gradasi warna dengan bahasa yang dekat dengan dunia anak. Gradasi dijelaskan sebagai perubahan warna secara bertahap, misalnya biru muda menuju biru hingga biru tua.
Guru kemudian memberikan demonstrasi cara membuat gradasi menggunakan pensil warna atau krayon. Siswa diajak memahami bahwa gradasi tidak harus langsung sempurna. Yang terpenting adalah berani mencoba membuat perubahan warna secara perlahan.
Setelah memahami konsep, siswa memasuki tahap proyek. Mereka mewarnai sketsa yang telah disiapkan dengan menerapkan sedikitnya dua atau tiga tingkat warna.
Siswa perempuan mengerjakan objek air terjun, sementara siswa laki-laki mengerjakan objek gunung. Dengan pilihan warna masing-masing, karya siswa pun mulai menunjukkan karakter yang berbeda.
Guru berkeliling mendampingi proses tersebut. Bukan hanya membantu ketika siswa mengalami kesulitan, tetapi juga memberikan apresiasi atas setiap usaha yang dilakukan.
Di sinilah pembelajaran menjadi lebih dari sekadar mewarnai. Siswa belajar bahwa setiap karya boleh berbeda dan setiap proses memiliki nilai.
Supervisi sebagai Ruang Bertumbuh
Pembelajaran Seni Rupa ini menggunakan model Project-Based Learning (PJBL) dengan pendekatan pembelajaran mendalam yang mencakup mindful, meaningful, dan joyful learning.
Melalui kegiatan mengamati, mencoba, membuat karya, hingga mengapresiasi hasil teman, siswa tidak hanya belajar mengenal warna. Mereka juga dilatih untuk mandiri, bernalar kritis, dan kreatif.
Pada akhir pembelajaran, beberapa siswa mendapat kesempatan menunjukkan hasil karyanya di depan kelas. Guru mengajak mereka mengenali warna yang digunakan, bagian paling terang, serta bagian paling gelap pada karya masing-masing.
Tepuk tangan teman-teman pun menjadi bentuk apresiasi sederhana yang membuat suasana kelas semakin hidup.
Bagi Nurul, supervisi bukan sekadar melihat keterlaksanaan sebuah modul pembelajaran. Kehadiran supervisor menjadi bagian dari proses untuk melihat bagaimana pembelajaran benar-benar hadir di tengah siswa.
Melalui supervisi ini, proses pembelajaran di kelas 2A menjadi ruang refleksi bersama untuk terus menghadirkan pembelajaran yang bermakna, menyenangkan, dan sesuai dengan kebutuhan anak.
Sebab, dari sebuah warna yang perlahan berubah dari terang menjadi gelap, anak-anak MUTUBA belajar satu hal penting: karya yang baik tidak harus seragam, tetapi lahir dari proses mencoba dan keberanian untuk berkreasi.
kontributor : tim humas mutuba (sk)
