Taman Perkalian, Cara Seru Siswa Kelas 2C MUTUBA Belajar Matematika

 

MUTUBA NEWS - Bagi sebagian anak, perkalian mungkin terdengar seperti deretan angka yang harus dihafalkan. Namun, siswa kelas 2C SD Muhammadiyah 1 Bangkalan menemukan cara yang lebih menyenangkan untuk memahaminya: bermain, bekerja sama, dan membuat karya.

Hal itu terlihat dalam pembelajaran Matematika materi perkalian yang dilaksanakan di kelas 2C pada Senin (19/10/2026). Pembelajaran yang diampu Ibu Diar tersebut sekaligus menjadi bagian dari kegiatan supervisi pembelajaran.

Supervisi dilakukan oleh Waka Ketenagakerjaan, Bapak Hilmi, sebagai supervisor, dan KP Ibu Yuli, sebagai supervisor.

Perkalian Bukan Sekadar Hafalan

Pembelajaran diawali dengan kegiatan sederhana menggunakan benda konkret. Guru menunjukkan beberapa mangkuk dan gelas dengan jumlah yang sama. Siswa kemudian diajak mengamati dan menjawab pertanyaan tentang kesamaan jumlah benda pada setiap kelompok.

Dari benda-benda sederhana tersebut, siswa mulai memahami bahwa perkalian berkaitan dengan penjumlahan berulang dari kelompok yang jumlahnya sama banyak.

Guru memberikan contoh 3 × 2 yang dapat dituliskan sebagai 2 + 2 + 2 = 6. Kata kunci “sama banyak” menjadi penekanan penting agar siswa tidak sekadar menghafal hasil perkalian, tetapi memahami konsep di baliknya.

Pembelajaran kemudian berlanjut pada kegiatan demonstrasi menggunakan stik es krim. Siswa diajak membuat beberapa kelompok dengan jumlah stik yang sama, kemudian menghubungkannya dengan bentuk penjumlahan berulang dan kalimat perkalian.

Taman Perkalian, Belajar Sambil Berkarya

Bagian yang paling menarik hadir ketika siswa memasuki proyek “Taman Perkalian”.

Siswa dibagi menjadi lima kelompok. Masing-masing kelompok mendapatkan tantangan berbeda untuk membuat karya menggunakan stik es krim.

Ada kelompok yang membuat Bunga Perkalian, Rumah Perkalian, Bintang Kejora, Jembatan Perkalian, hingga Pohon Perkalian.

Setiap karya tidak berhenti pada bentuknya saja. Anak-anak juga harus menghitung jumlah stik yang digunakan, kemudian menuliskan penjumlahan berulang dan bentuk perkaliannya.

Misalnya, kelompok yang membuat tiga bunga dengan masing-masing tiga stik menuliskan 3 + 3 + 3 = 9, kemudian mengubahnya menjadi 3 × 3 = 9.

Dengan cara tersebut, konsep matematika terasa lebih dekat dengan kehidupan dan aktivitas anak. Mereka melihat langsung bahwa tiga kelompok yang masing-masing memiliki tiga benda dapat dimaknai sebagai perkalian.

Suasana kelas pun menjadi lebih hidup. Ada yang sibuk menyusun stik, ada yang menghitung, ada yang menuliskan hasil, sementara anggota kelompok lainnya membantu memastikan karya mereka tersusun dengan baik.

Belajar Matematika Sekaligus Belajar Bersama

Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya dilatih memahami konsep perkalian. Mereka juga belajar mandiri, bernalar kritis, dan bergotong royong.

Guru berkeliling memberikan pendampingan kepada setiap kelompok, membantu ketika ada yang mengalami kesulitan, serta mengarahkan siswa agar penjumlahan berulang dan bentuk perkalian yang mereka tuliskan sesuai dengan jumlah benda pada karya.

Setelah karya selesai, beberapa kelompok mempresentasikan Taman Perkalian mereka di depan kelas. Siswa menjelaskan karya yang dibuat, jumlah stik pada setiap kelompok, serta bentuk penjumlahan berulang dan perkaliannya.

Teman-teman yang lain memberikan tepuk tangan sebagai bentuk apresiasi.

Kegiatan supervisi ini menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan bagi guru dalam menghadirkan pembelajaran yang mindful, meaningful, dan joyful.

Melalui pendekatan Project-Based Learning, matematika tidak lagi hanya hadir dalam bentuk angka di papan tulis. Di kelas 2C MUTUBA, angka-angka itu menjelma menjadi bunga, rumah, bintang, jembatan, dan pohon.

Dari stik-stik kecil yang disusun bersama, anak-anak belajar bahwa perkalian adalah tentang kelompok yang sama banyak dan belajar bersama membuat matematika terasa lebih menyenangkan.



kontributor : tim humas mutuba (sk)

Lebih baru Lebih lama